Pengalamanku Sebagai Pengajar Jelajah Nusa di Aceh Singkil

Dari kiri ke kanan: Alvian; anak dari Desa Danau Bungara; gue

Halo semua! Nama gue Fareez, gue tinggal di Depok, dan gue adalah salah satu alumni Pengajar Jelajah Nusa (PJN) angkatan 2, tahun 2018. Untuk yang belum tau, PJN adalah program kerja sama PT Ultrajaya (iya, yang bikin Ultramilk) dengan Indonesia Mengajar (itu lho, yayasan yang mengirim guru-guru muda untuk membangun pendidikan di daerah pelosok Indonesia). Di program ini, 24 peserta anak SMA dan setingkat terpilih akan dilatih lalu ditempatkan ke pelosok Indonesia untuk menjelajah sekaligus mengajar anak-anak yang tinggal di sana. 
Meski kegiatan ini sudah lewat 2 tahun dari saat penulisan, sayang rasanya kalau gue ga sharing tentang pengalaman yang gue dapat selama kurang lebih 3 minggu belajar, mengajar, dan berjelajah di PJN '18. Better late than never, ya ga? Hehe

Ohya, sebelum kita lanjut, kebetulan ini adalah blog pertama yang gue bikin. Harapan gue adalah gue akan lebih aktif menulis blog-blog lagi ke depannya tentang banyak hal, ga cuman tentang PJN. Jadi, mohon maaf apabila ada kesalahan dalam tutur kata atau etika menulis 😅 gue terbuka atas segala bentuk kritikan. Kalau mau kontak gue lebih lanjut, boleh banget melalui email fareez.eldacca@gmail.com atau Instagram @fareezed. Without further ado, let's continue.

Semua bermula pada bulan April 2018. Gue yang sedang duduk di kelas 10 SMA kala itu seharusnya mengikuti acara jalan-jalan tahunan sekolah atau yang biasa disebut Study Tour. Keliling Pulau Jawa, menikmati perjalanan yang jauh, dan merasakan sensasi baru dengan teman-teman adalah hal yang wajib dicoba, terutama bagi orang yang cinta mati dengan petualang seperti gue. Namun, apa boleh buat, seminggu sebelum perjalanan ini, diriku terserang oleh typhoid fever atau yang lebih sering dikenal dengan penyakit tifus. Gue hanya bisa tiduran di kasur, main HP sambil melihat unggahan-unggahan Instagram teman gue yang sedang asyik menikmati Study Tour. Bahkan gue sampai berpikir "Ya Tuhan, kenapa aku tidak bisa merasakan keseruan bersama teman-temanku ini," sembari meneteskan air mata (hahaha lebay banget ya, namanya juga masih bocah). Meskipun gue sempat bersedih, gue bersyukur dan berterima kasih banget telah dibikinin video get well soon oleh temen-temen gue (X IPA 6 Phoenix, you're the best!). 

Gue selalu yakin kalau Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik untuk kita. Mungkin gue ga dibolehin ikut Study Tour karena ada rencana lain dari-Nya untuk gue. Dari situ, muncul semangat dari dalam diri gue sendiri. Gue berpikir, kalau gue ga ikut Study Tour tahun ini, gue harus melakukan hal lain yang tak kalah seru dan produktifnya. Ternyata oh ternyata, that's exactly what happened

Saat gue sedang asik bermain Youtube, muncul iklan ini: https://www.youtube.com/watch?v=UHQFgCmKRiE . Intinya, itu adalah video tentang cerita salah seorang alumni PJN 2017, Kak Savira (hai kak!), mengenai pengalaman serunya ketika ditempatkan di Kepulauan Natuna. Reaksi inisial gue adalah amazement, gue suka banget dengan konsep menjelajah tempat yang jauh, belajar tentang budaya lokalnya, sekaligus membangun bangsa dengan mengajar anak-anak di sana. Automatis, gue langsung tertarik. Setelah melihat persyaratan dan meminta restu dari orang tua, gue ga menghabiskan waktu lagi untuk mendaftarkan diri. Long story short, setelah proses kurang lebih dua bulan dari meng-submit essay yang dibuat dengan sepenuh hati hingga tahap wawancara yang sangatlah deg-degan, gue ditelepon oleh panitia PJN. Alhamdulillah, gue resmi keterima sebagai calon Pengajar Jelajah Nusa '18. Inilah permulaan dari salah satu pengalaman terbaik dalam hidup gue.

Sebelum lanjut, perlu diketahui kalau event PJN dibagi menjadi tiga segmentasi, yaitu karantina (masa pelatihan), penempatan, dan pascapenempatan. 

Seluruh peserta PJN dan kakak-kakak fasilitator (gue di bawah, tiga dari kiri, dengan batik putih)


Karantina PJN '18 diselenggarakan di suatu kompleks villa yang terletak di perbatasan kota Depok. Lokasi ini sangat praktis bagi gue yang tinggal di kota yang sama hehe. Karena PJN adalah event skala nasional, peserta yang terpilih sangatlah bhinneka; ada yang dari Pulau Samosir, Bengkulu, Bali, Gorontalo, hingga Papua Barat, totalnya ada 24. Mereka semua disediakan tiket penerbangan dari daerah asal ke Bandara Soekarno-Hatta, lalu dijemput dengan bus hingga ke Depok. Hanya gue dan Okta (salah satu peserta PJN yang berasal dari Depok juga) yang diantar oleh orang tua ke tempat karantina 😂. Di sinilah tempat kami, para peserta, menyelaraskan tujuan agar memiliki mindset yang sama dan dilatih oleh fasiltator agar memiliki skills yang diperlukan untuk masa penempatan. Karantina juga menjadi tempat kami saling berkenalan dan menjadi akrab dengan peserta PJN lainnya, yang tentu merupakan hal penting mengingat kami harus mampu bekerja sama ketika di penempatan nanti. 

Karantina adalah masa krusial yang menentukan kelancaran dan kesuksesan penempatan kami nanti. Bayangkan jika andainya kami dengan tiba-tiba langsung ditempatkan di pelosok tanpa bekal pengetahuan adat istiadat budaya setempat, tata cara berkomunikasi dengan penduduk, dan kemampuan-kemampuan penting lainnya? bakal bingung dong! Maka dari itu, beberapa hal yang kami pelajari selama karantina antara lain adalah belajar mengajar kreatif, serta etika dan cara berperilaku sebagai pendatang seperti adaptasi budaya, pemberdayaan, dan komunikasi dengan stakeholder. Oh ya, panitia yang melatih kami juga merupakan mantan pengajar muda dari IM sehingga bisa dipastikan apa yang diajarkan efektif dan berdasarkan pengalaman mereka sendiri dari penempatan.

Kegiatan outbond di villa tempat pelatihan

Gue sangat menikmati masa karantina. Di sini kami ga cuma belajar terus, panitia juga mengadakan sesi-sesi yang seru banget seperti ice breaking agar makin kenal dengan sesama, outbond, games, dan talkshow dengan pembicara yang super kece dan inspiratif. Gue pun dapat semakin mengenali sesama peserta dan cerita-cerita yang mereka bawa dari masing-masing daerahnya. Karena PJN merupakan kegiatan skala nasional pertama yang pernah gue ikuti, ini pertama kalinya gue mendapatkan teman sebaya yang berasal dari daerah yang jauh. Jujur, waktu itu mungkin gue agak culture shock (wkwk lebay sih) karena ternyata di beberapa daerah lain, ungkapan "lu - gue" (yang gue pake dalam keseharian, termasuk untuk menulis blog ini) sangat tidak lazim dan bahkan dianggap kasar. Oleh karena itu, gue harus memaksakan lidah Depok gue untuk mengucapkan "aku - kamu" instead, dan untungnya ga perlu lama gue udah terbiasa haha. Singkat cerita, kami belajar banyak sekali ilmu penting yang ternyata tidak hanya berguna selama masa penempatan, tetapi juga untuk seumur hidup.

Beberapa malam sebelum pemberangkatan, panitia mengumumkan tempat penempatan masing-masing peserta. Seluruh peserta yang berjumlah 24 orang akan didistribusikan di 3 kabupaten terdepan, yaitu Aceh Singkil, Nunukan, dan Kepulauan Sula. Setiap kabupaten pun dibagi lagi menjadi 2 desa, dengan 4 orang peserta dan 1 orang pembimbing per desanya. Kebetulan, gue menjadi bagian yang akan ditempatkan di Aceh Singkil, bersama dengan tujuh teman yang lain. Lebih tepatnya, gue akan ditempatkan di Desa Danau Bungara, desa yang ada danaunya, bersama team mate gue: Christin dari Sorong, Abby dari Samarinda, dan Alvian dari Pelaihari.

Setelah upacara pelepasan dan perpisahan singkat, kakak-kakak panitia dan fasilitator mengantar kami ke bandara untuk berangkat ke penempatan masing-masing. Di situ lah petualangan dimulai.

To be continued...


Untuk bagian selanjutnya, gue akan menceritakan perjalanan, kegiatan, keseruan, dan peristiwa menarik lainnya yang terjadi selama penempatan di Aceh Singkil. See you until then!

Comments

  1. Replies
    1. kalo ada kesempatan lagi, kamu wajib daftar ya! :) seharusnya event ini diselenggarakan tahunan kok sama Ultrajaya hehe

      Delete
  2. Hebat deh redaksinya .... selamat dan sukses selalu....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Chronicles from South Borneo

Pengalamanku Sebagai Pengajar Jelajah Nusa di Aceh Singkil, Part 2