Pengalamanku Sebagai Pengajar Jelajah Nusa di Aceh Singkil, Part 2

Jalanan di Desa Danau Bungara at sunrise 

Kami harus menempuh perjalanan full satu hari dari Jakarta ke tujuan akhir, Desa Danau Bungara. Penerbangan yang berdurasi sekitar dua jam lebih sedikit dari Soekarno-Hatta ke Kualanamu pun disambung dengan perjalanan mobil yang memakan kurang lebih tujuh jam. Di bandara, kami disambut oleh Kak Adit, seorang pengajar muda asal Jawa Tengah yang ditugaskan di Desa Danau Bungara oleh Indonesia Mengajar (IM) untuk memajukan tempat tersebut dengan mengajar anak sekolah dan mengadakan kegiatan yang melibatkan masyarakat setempat. Selama penempatan kami di Desa ke depannya, beliaulah yang akan menjaga dan membimbing kami dalam berkegiatan. Setelah makan siang bersama di restoran ayam goreng di pinggir jalan raya, kami pun segera caw meninggalkan Medan dan menuju Aceh Singkil.


Rumah makan di Subulussalam.
Gue iseng ngaduk kuali.
Perjalanan menuju Desa Danau Bungara dapat dijelaskan dengan beberapa kata ini: indah, jauh, seru dan mengerikan. Mengapa mengerikan? supirnya suka ngebut dan nyalip-nyalip kendaraan lain, bahkan di tikungan wkwk. Jujur ngeri banget dan bisa dibilang setiap kali ia melakukan itu aku langsung menegangkan badan, 'cause you don't know whats around the corner, tetapi alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Tentunya, kami tidak meninggalkan kesempatan untuk beristirahat dan melihat pemandangan sepanjang perjalanan. Jalanan yang berlika-liku melalui seluk-beluk lembah dan lereng bukit mengingatkanku akan jalanan di daerah Puncak di Bogor (I know, sangat mainstream wkwk), hanya saja bedanya tidak ada anak-anak muda dari Jakarta dan Depok yang sedang touring naik motor untuk mencari tempat angkringan, dan lokasinya jauh lebih terisolasi, bahkan beberapa kali harus melewati kondisi jalanan yang sangat rusak. Setelah mengusir kebosanan dengan bergurau dan bernyanyi karaoke bersama Christin, Abby, dan Alvian, tak terasa matahari pun terbenam dan kami tiba di Desa Danau Bungara. 


Setibanya kami di Desa, kami langsung disambut oleh Bapak Kepala Desa (Pak Kades) di rumahnya. Meskipun hari sudah gelap, masih ada sekelompok anak-anak SD yang malu-malu mendekati mobil kami dengan wajah penuh keingintahuan. Tentunya, mereka jarang menerima tamu dari luar daerah sehingga kedatangan kami cukup istimewa baginya. Setelah mengobrol di ruang tamu Pak Kades sembari disuguh teh manis, kami pun di-brief oleh beliau mengenai situasi penginapan kami selama penempatan di desa. Setiap harinya, dari pagi sampai malam, kami akan melakukan kegiatan dengan rumah Pak Kades sebagai basecamp utama kami. Ketika malam datang, Abby dan Christin sebagai perempuan akan menginap di ruang tamu rumah Pak Kades, sementara gue dan Alvian akan menempati kantor kepala desa yang lokasinya tidak jauh dari situ. Kalau kak Adit sendiri memang sudah tinggal di sebuah ruangan yang tidak terpakai di sekolah dasar desa. Setelah selesai berbicara dengan Pak Kades, kami pun beranjak ke lokasi tidur masing-masing dan beristirahat untuk menghadapi esok hari.


Malam berlalu dan pagi pun datang untuk menyambut kami dengan sinaran hangat mentari. Pada hari pertama, kami mengagendakan kegiatan kami untuk keliling desa, berkenalan dengan masyarakat setempat, basically mengorientasikan dan mengadaptasikan diri dengan Desa Danau Bungara. Acara pertama yang kami hadiri dalam penempatan ini adalah penyambutan resmi kami sebagai tamu di desa ini yang dihadiri oleh Pak Kades, para kepala sekolah desa, dan tokoh penting lainnya. Setelah acara penyambutan selesai, kami menghaturkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat yang telah menerima kami serta turut mendukung kegiatan ini agar dapat berjalan dengan lancar. Setelah itu, kami menghabisi hari di SDN setempat untuk berinteraksi bersama anak-anak sekolah. Mereka sangat senang atas kedatangan kami, terutama Alvian, Itin, dan Abby yang sangat aktif mengajak mereka bermain games kecil-kecilan dan bernyanyi bersama. 


Mungkin kalian para pembaca sudah bertanya-tanya dari awal. "Mengapa nama tempatnya Desa Danau Bungara?" well, kalau kalian menebak karena terdapat danau di desa ini, tepat sekali! Terdapat sebuah danau bernama Danau Bungara yang menjadi identitas dan pusat dari desa ini. Tentunya, signifikansi danau ini tidak dapat dimiripkan dengan Danau Toba, tetapi danau ini berukuran cukup besar (jika dibandingkan dengan danau-danau yang terdapat di Universitas Indonesia wkwk). Kepentingan Danau Bungara bagi desa yang bernama sama ini sangatlah besar, bahkan salah satu kegiatan ekonomi paling utama di desa ini adalah nelayan (kegiatan ekonomi penting lainnya antara lain adalah pekerja di perkebunan kelapa sawit dan pedagang di pasar). Ikan yang berlimpah menjadi sumber protein bagi banyak warga desa, harganya pun sangat terjangkau. Sepanjang penempatan kami di Desa, hampir setiap hari kami memakan ikan, yang kalau ga salah waktu itu disebut nama jenisnya adalah 'ikan paitan' (coba deh di-google, kayak ikan mas versi mini). Meskipun berukuran kecil, rasanya enak dan gurih banget, so I didn't complain having to eat that every day!


Danau Bungara at sunrise, difoto oleh Alvian.
Tak hanya itu, Danau Bungara juga dianggap memiliki potensi wisata yang besar. Jujur saja, danau ini memang sangat indah, seperti yang bisa kalian lihat dalam foto di sebelah kanan. Perairan yang terbentang luas, dikelilingi oleh perhutanan yang lebat serta dihiasi pulau-pulau kecil, is it not pretty? Sayangnya, pendanaan yang dapat dialokasikan oleh administrasi setempat untuk mengembangkan lokasi ini sebagai destinasi wisata sangatlah terbatas. Belum terdapat atraksi khusus yang dapat dilakukan, seperti menyewa perahu kecil atau makan di restoran pinggir danau. Jika saja terdapat beberapa hal tersebut, maka aku yakin kalau Danau Bungara bisa menjadi destinasi wisata yang keren. Kita doakan saja lah ya, semoga ke depannya tempat ini makin berkembang terus.


The Gang (from left to right: Abby, Alvian, me, Christin) and 3 curious bocahs!


Dermaga kecil-kecilan di Danau Bungara yang didekorasi warna-warni, and kids.


Beberapa hari ke depannya, kami berempat bersama Kak Adit menghabiskan waktu dengan mengadakan berbagai kegiatan yang melibatkan warga desa, terutama para anak-anak sekolah. Penempatan kami durasinya tidak lebih dari satu minggu, itu adalah waktu yang sangat pendek bagi siapapun untuk mengadakan suatu program jangka panjang. Oleh karena itu, kegiatan yang kami buat lebih berorientasi kepada hight interaction based activities, seperti mengadakan games setelah waktu sekolah, belajar tarian budaya setempat, dan sosialisasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Hal terakhir menjadi poin yang sangat penting bagi kami, karena setelah berkeliling dan melihat-lihat lingkungan desa, kondisi kebersihannya sangat memprihatinkan. Tumpukkan sampah terdapat di hampir setiap pojok baris rumah. Tentunya, hal tersebut merupakan konsekuensi dari kurangnya pemberlakuan sistem pengolahan sampah oleh pemerintah setempat di daerah tersebut. Kami hanya dapat mengajarkan anak-anak untuk tidak membiasakan membuang sampah sembarangan melalui cara-cara kreatif. Kebetulan, saat duduk di bangku SMP, aku sangat aktif mengikuti lomba storytelling bahasa Inggris, sehingga kemampuan tersebut sangat terpakai untuk menyampaikan pesan moral kebersihan kepada anak-anak.


Me dan Alvian sedang mengajarkan anak sekolah untuk bermain game dengan balon.


Beberapa hari pun berlalu, tak terasa sudah datang saatnya bagi kami untuk kembali ke Jakarta. Pada hari terakhir, kami mengadakan acara perpisahan kecil-kecilan di rumah Pak Kades, yang tak lain ramai didatangi oleh anak-anak SD. Kami bermain, menyanyikan lagu-lagu, dan saling memberi ucapan selamat tinggal dan sampai jumpa kepadanya. Tak bisa dipungkiri, keberadaan bocah-bocah itu dan interaksi yang kami lakukan bersamanya menjadi highlight terbesar selama masa penempatan kami di desa. Setelah bersalaman dengan Pak Kades dan istrinya, kami pun menaikki mobil pick-up sewaan yang telah menunggu dan memulai perjalanan. Kami bertemu dengan peserta dari desa penempatan lainnya, dan setelah tiba di Medan, kami langsung boarding pesawat menuju Jakarta. 


Christin dan Alvian menggambar dan mewarnai bersama anak sekolah


Ini adalah paragraf terakhir dari series PJN-ku. Bijaknya, aku mengakhiri dengan last remarks yang puitis nan elok, tetapi karena aku tidak jago, aku akan langsung mencurahkan isi hati saja. 

Di PJN, aku merasakan banyak hal yang tidak pernah terpikirkan bagiku sebelumnya. Aku telah melihat sendiri betapa besar perbedaan antara kehidupan di kota besar yang aku tahu dan kehidupan di desa yang serba sederhana. Di tengah kehidupan urban yang modern, sangat mudah bagi kami untuk merasa kekurangan meskipun berada dalam kelebihan secara material. Menghabiskan beberapa waktu di desa dapat memulihkan kembali rasa kemanusiaan yang sederhana dalam jiwa dan raga, bahwa sebenarnya beberapa hal terindah dalam hidup dapat ditemukan dalam hal terkecil. Beberapa hal tersebut antara lain seperti memiliki komunitas yang saling membantu, teman main yang seru, dan makanan enak. Kadang kita lupa akan besarnya peran hal-hal basic tersebut terhadap kesehatan mental kita. Hal lain yang aku pelajari adalah bahwa menghabiskan beberapa waktu melakukan hal-hal besara bersama seseorang dapat menciptakan ikatan yang sangat kuat. Hingga kini, aku dan Alvian masih bertemanan dengan dekat. Bahkan, setahun setelah PJN, aku menemukan diriku bermain ke kota asalnya di Pelaihari dan kami berpetualang Kalimantan Selatan ala backpacker dengan motor NMAX-nya. Mungkin itu akan jadi series blog selanjutnya setelah yang ini. All in all, it was one of the best experience in my life and I got so much out of it. I hope you can too, cheers for more adventures ahead!

Comments

Popular posts from this blog

Chronicles from South Borneo

Pengalamanku Sebagai Pengajar Jelajah Nusa di Aceh Singkil